KUDUS – Atmosfer yang kaya akan nilai-nilai ilmiah Islam memenuhi Pondok Pesantren Tasywiqul Furqon di Kudus pada hari ini, Jum’at, 13 Dzulqa’dah yang bertepatan dengan 01 Mei 2026 M. Pondok pesantren ini kembali mengadakan momen bersejarah bagi para santrinya melalui acara “Ujian Nyewu” 1002 Bait Kitab Alfiyyah Ibnu Malik.
Sebanyak 17 peserta ujian diberikan kesempatan untuk menguji ketangkasan daya ingat dan kedalaman pemahaman mereka terhadap tata bahasa Arab. Ujian ini memiliki peran yang sangat penting, karena hafalan 1002 bait Alfiyyah ditetapkan sebagai “syarat wajib” yang harus dipenuhi santri agar dapat dinyatakan lulus dari pondok pesantren.
Proses untuk menyelesaikan hafalan ini bukanlah hal yang gampang. Ke-17 santri itu harus menghadapi dan dinilai langsung oleh empat penguji yang sangat berkompeten, yaitu:
1. K. Ahmad Shofi Lutfi, Lc. , M. H.
2. Ustadz Noor Rohim
3. Ustadz Muhammad Fatkhul Umam
4. Ustadz Khoirul Ma’arif, S. Ag.
Pengasuh Pondok Pesantren Tasywiqul Furqon Kudus, K. H. Ahmad Bahruddin, S. Pd. I. , M. Pd. , Ph. D. (c), menyatakan bahwa kewajiban hafalan ini memiliki makna yang lebih dalam dibandingkan sekadar persyaratan administratif kelulusan.
“Kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan tradisi menghafal atau mengingat teks-teks klasik, terutama kemampuan dalam ilmu “i’jaz” yang tercantum dalam 1002 bait tersebut,” ucap beliau. Ia menekankan bahwa penguasaan tata bahasa Arab yang tinggi adalah kunci yang sangat penting untuk memahami berbagai ilmu agama lainnya, seperti tafsir, hadis, dan fikih secara mendetail.
Beliau juga mengingatkan kembali tentang sejarah dari karya besar ini. Kitab Alfiyyah ditulis oleh seorang ulama besar yang ahli dalam ilmu nahwu dan sharaf, yaitu Muhammad bin Abdullah bin Malik al-Andalusi yang berasal dari Andalusia (Spanyol) pada abad ke-7 Hijriah.
Di tengah perkembangan zaman modern yang cepat, dijadikannya hafalan Alfiyyah sebagai syarat kelulusan menunjukkan komitmen pesantren dalam mempertahankan keaslian ilmu Islam. Studi kitab kuning dan teks akademik klasik seperti Alfiyyah merupakan langkah strategis untuk menyelaraskan penguasaan ilmu agama yang mendalam dengan pemahaman yang luas, sehingga dapat membangun karakter santri yang kuat, berintegritas, dan tidak mudah terpengaruh oleh arus.
Di akhir penyampaiannya, K. H. Ahmad Bahruddin berdoa bagi semua peserta ujian, para pengajar, dan keluarga besar pesantren. “Semoga kita semua selalu diberkahi,” tutup beliau.
Keberhasilan 17 santri dalam memenuhi syarat Ujian Nyewu ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi berikutnya di Pondok Pesantren Tasywiqul Furqon Kudus untuk selalu mencintai, menghidupkan, dan melestarikan warisan ilmu dari para ulama terdahulu.







